BULAN Nopember ini sejumlah wilayah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mengalami bencana banjir hebat. Dengan demikian semua provinsi di Kalimantan, termasuk Sabah dan Serawak di Malaysia telah mengalami banjir besar selama kurun waku tahun 2021.

Pertama, Banjir Kalimantan Selatan (Kalsel)Januari 2021

Banjir di Desa Sungai Raya, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa (12/1/2021). Foto : Antaranews Kalsel/Bayu Pratama S.
Banjir bandang merendam sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Januari lalu. Basarnas mengungkapkan ada 2.600 warga terdampak banjir yang mengungsi.

Curah hujan yang tinggi dan perubahan penutup lahan di DAS Barito dituding sebagai biang kerok bencana banjir.

Kedua, Banjir Kalimantan Utara (Kaltara ) Mei 2021

Lima kecamatan di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), kebanjiran. Ratusan rumah yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia itu terendam banjir. Banjir terjadi akibat meluapnya dua sungai besar yang berhulu di Sarawak, Malaysia.

Ketiga, Kalimantan Timur (Kaltim) Mei dan Agustus 2021

Bulan Mei, Banjir terjadi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim) selama hampir dua pekan.

Ada tujuh kecamatan yang berdampak banjir, yakni Kecamatan Muara Bangkal, Kecamatan Batu Ampar, Kecamatan Muara Ancalong, Kecamatan Long Masengat, Kecamatan Telen, Kecamatan Muara Wahau, dan Kecamatan Kombeng. Ketinggian air bervariasi, 30-100 cm.

Kemudiam,pada bulan Agustus, banjir kembali terjadi di Balikpan. Sejumlah kawasan permukiman di Kota Balikpapan terendam air pada Agustus lalu. Banjir di permukiman mencapai ketinggian sepinggang orang dewasa.

Kempat,Banjir Kalimantan Tengah (Kalteng) Setember dan November 2021

Bulan September banjir terjadi di 11 kabupaten/kota se-Kalteng.Sebanyak enam kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ditetapkan status tanggap darurat bencana banjir.

Enam kabupaten menetapkan status darurat bencana banjir, yaitu Kotawaringin Barat, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Lamandau, dan Gunung Mas. Sedangkan Kabupaten Pulang Pisau dengan status siaga darurat bencana banjir.

Banjir di 11 kabupaten/kota se-Kalteng disebabkan peningkatan intensitas curah hujan yang terjadi mulai 21 Agustus 2021. Sedangkan masyarakat yang terkena dampak banjir sebanyak 29.885 keluarga dengan jumlah 57.117 jiwa.

Banjir parah kembali terjadi pada Bulan Nopember. 11 Kabupaten Kota mengalami banjir besar, termasuk ibukota Palangkaraya.Puluhan ribu jiwa berdampak dan harus mengungsi.

Keempat, banjir Kalimantan Barat (Kalbar) Nopember 2021

Salah satu SMA di Bengkayang. Foto : Kompas.com
Yang terbaru adalah banjir yang melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Banjir ini sudah berlangsung selama empat pekan. Sebelumnya, pada Januari 20021 lalu, povinsi ini juga mengalami banjir, terutama di Kabupaten Bengkayang

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, debit air telah turun 10-15 sentimeter pada Jumat (12/11). Sebanyak 12 kecamatan masih terdampak banjir karena meluapnya air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Sei Tebelian, dan Kelam Permai.

Dilansir dari detik.com, Banjir di Sintang telah menelan dua orang korban jiwa, dan jembatan rusak berat sebanyak 5 unit, dan rusak sedang 1 unit. Pemerintah daerah pun telah melakukan perpanjangan status tanggap darurat untuk bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor hingga 16 November 2021.

Kelima, Banjir Serawak September 2021

Banjir Kampung Ekang Baram – Gambar ihsan JBPM Sarawak
Setidak 18 kawasan di bagian serawak dilanda banjir besar pada september lalu. Yakni 15 kawasan di Baram, dua di Miri dan satu di Subis. Bahkan dari beberapa wilayah yang dilanda banjir itu, ada berapa daerah yang sampai lima kali diterjang banjir dalam tahun ini.

Keenam ,Banjir Sabah September 2021

BanjirPenampang – Tambunan – Gambar : BERNAMA
Disaat bersaaman banjir Serawak, Di negara bagian Sabah juga mengalami banjir parah selama bulan September 2021.

Banjir melanda sejumlah kawasan kota seperti Kota Kinabalu, Penampang, Tuaran, Papar dan Kota Belud, serta di sejumlah kawasan pedalaman Sabah antaranya Sipitang, Tenom, Kuala Penyu, Beaufort, Keningau dan Tambunan, serta beberapa kawasan lain yaitu Ranau dan Kudat.

Kembali Ke Kearifan Lokal Leluhur Dayak

Dari sekian musibah banjir yang terjadi di wilayah Kalimantan, pastilah warga Dayaklah yang paling dirugikan. Kehidupan mereka yang selama ini banyak bermukim didataran rendah dan dekat aliran sungai sangat tergantung oleh keseimbangan alam. Ketika banjir terjadi, merekalah yang paling menderita, jauh dari akses evakuasi, bantuan makanan dan kesehatan. Banjir juga akan menyebabkan pertanian, perkebunan dan peternakan mereka berdampak. Belum lagi harta benda, insfratruktur dusun yang rusak semakin membuat masyarakat semakin terpuruk.

Maka itu, Peristiwa banjir yang sporadis di Kalimantan selama tahun 2021 ini paling tidak bisa menjadi warning bagi ita untuk kembali kepada kearifan lokal, hukum adat dan ajaran para leluhur menjaga dan melindungi hutan sepenuh jiwa dan raga.

Pada dasarnya, Masyarakat Dayak tidak akan berani sedikitpun merusak alam. Hutan, bumi, sungai, dan seluruh lingkungannya adalah bagian dari hidup itu sendiri. Sebelum mengambil sesuatu dari alam, masyarakatDayak selalu memberi terlebih dahulu. Sebagai contoh apabila ingin membuka lahan baru, terutama dengan menggarap hutan yang masih perawan, harus dipenuhi syarat‑syarat tertentu (bdk. Mubyarto, 60‑63): pertama, memberitahukan maksud tersebut kepada kepala suku atau kepala adat; kedua, seorang atau beberapa orang ditugaskan mencari hutan yang cocok. Mereka ini akan tinggal atau berdiam dihutan‑hutan untuk memperoleh petunjuk atau tanda, dengan memberikan persembahan. Usaha mendapatkan tanda, ini dibarengi dengan memeriksa, hutan dan tanah, apakah cocok untuk berladang atau berkebun; Ketiga, apabila sudah diperoleh secara pasti hutan mana yang sesuai, segera upacara pembukaan hutan itu dilakukan sebagai tanda pengakuan bahwa hutan atau bumi itulah yang memberikan Kehidupan bagi mereka (nafkah) dan sebagai harapan agar hutan yang dibuka itu berkenan memberkati dan melindungi mereka; dan keempat, untuk membuktikan bahwa mereka mengembalikan apa yang diambil ada ketentuan atau kebiasaan bahwa hutan yang diolah itu hanya digunakan selama 2‑3 kali masa panen, kemudian ia dibiarkan untuk bertumbuh kembali menjadi hutan, dan baru dikerjakan kembali setelah 15‑20 tahun.

Tradisi ini dipercaya karena menjaga dan melindungi alam adalah kewajiban religius masyarakat Dayak kepada sang Pencipta alam. Semakin mereka menjaga dan melindungi kepada alam, maka Tuhan akan memberikan kebaikan, kemakmuran dan perlindungan kepada kehidupan mereka

Oleh karena itu, kita harus berani melawan setiap tindakan yang dilakukan untuk merusak hutan dan mengganggu keseimbangan alam, sekalipun itu pemerintah dan korporat yang didukung aparat, bahkan kita harus berani menghukum keluarga dan kerabat kita apabila mereka menjadi bagian atau mendukung kegiatan perusakan hutan.

Kita tidak bisa lagi bergantung dan membiarkan kesewenangan pemerintah, yang terbukti abai melindungi hutan dan masa depan anak cucu kita. Kita harus mengambil sikap mandiri dan merdeka atas persoalan hutan dan alam yang kita tempati. Para leluhur telah mewarisi adat istiadat yang sangat arif bagi keberlangsungngan hidup kita.(*)

Oleh: Tommy