Dayak Wehea Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur memiliki penanggalan yang unik dan masih digunakan hingga saat ini dalam menjalankan berbagai kegiatan adat dan kegiatan sehari-hari.

Penanggalan Dayak Wehea, dapat dikatakan sebagai penanggalan astronomi versi sederhana yang diciptakan oleh nenek moyang mereka.

Keunikan penanggalan ini adalah memiliki jumlah bulan sebanyak 29/30 dan 10 masa. Meski bulannya ada 29 atau 30 tetapi biasanya hanya 15 saja yang disebutkan. Ini karena 15 bulan pertama itu nanti namanya akan diulang lagi ada bulan ke-16nya hingga ke bulan yang terakhir. Seperti digambarkan dalam penelitian Robbaniyah, Nur (2018), pertama Mailih, kedua Mesliet, Cep keal 3 malam, Kelang 3 malam, Seb bling 3 malam, Seg loh 3 malam, Keslih ini yang ke-15, Keldem,Welsung 3 malam, Pliq 3 malam, Kelang 3 malam, Epkeal 3 malam, Mailih, terakhir Cepteq.

Bulan dan masa dalam penanggalan ini saling berkaitan satu sama lainnya karena merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan. Dayak Wehea selalu melakukan observasi untuk memastikan bentuk bulan yang terlihat di langit pada bulan ke-29 dan beberapa hari sebelum pelaksanaan masa dalam penanggalan Dayak Wehea.

Keunikan lain penanggalan ini, aturan adat turun temurun melarang penanggalan itu dituliskan, hanya orang-orang tertentu yang boleh melihat dan mempelajari penanggalan ini.