Pada akhirnya pilihan media itu ada dua : berpihak pada penguasa atau menjadi alat penguasa. Politik dan media adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kehadiran media tak lepas dari kepentinngan politik yang mengiringi, demikian sebaliknya politik tak akan berpengaruh jika tidak berkelindan dengan media.

Machieveli berkata tujuan utama berpolitik adalah memperkuat dan memperluas kekuasaan. Untuk memperluas kekuasaan itu, penguasa memerlukan media sebagai alat penyebarluasan makna politiknya kepada khalayak luas, termasuk melakukan rekayasa bahasa untuk kepentingan konsolidasi kekuasaan.

Dalam banyak kasus, media massa sering digunakan oleh kelompok-kelompok politik untuk mengendalikan makna di tengah tengah pergaulan sosial. Bahasa yang menjadi kekuatan media massa tidak saja dapat menciptakan sebuah realitas politik melainkan menentukan citra sebuah kekuasaan

Bahasa yang dimainkan media memberi implikasi terhadap makna suatu realitas. Pilihan kata dan cara media menyajikan suatu realitas turut menentukan bagaimana persepsi khalayak atas realitas itu.

Kekuatan retorika politik tidak saja dipengaruhi oleh rangkaian kata kata yang disusun tapi juga sejauh mana rangkaian kata itu bisa terbaca dan dapat dimaknai oleh khalayak luas.

Medialah yang mampu merangkai retorika politik itu agar dapat dimaknai sebagimana tujuan dari kekuasaan itu.

Media tidak saja menciptakan realitas tapi mampu memainkan realitas. Kekuatan inilah yang membuat media berat untuk tidak berkelindan dengan kekuatan politik.

Media adalah alat konseptualisasi bagi kekuatan politik. Dan media hidup dari kepentingan kepentingan politik itu.

Bila saat ini ada media yang terlihat bersebrangan dengan penguasa dan begitu kritis terhadap penguasa, bukan berarti mereka netral dan keukuh pada idealisme, melainkan media itu sedang mensupport kekuatan politik oposisi dan kemudian berinvestasi agar kelak menjadi alat kekuasaan jika oposisi itu berkuasa.