Ketegasan tidak berarti marah-marah. Orang tegas akan membiarkan aturan dan hukum yang berbicara sesuai caranya  tanpa perlu teriak-teriak dengan amarah.

Kali ini aku ingin membahas tentang aksi marah-marah dan arogansi yang disematkan kepada Ahok (Basuki Cahya Purnama)  dan Risma (Tri Rismaharini).

Kedua tokoh ini memang sering menimbulkan kontroversi. Sikap emosional dan komunikasi verbalnya seringkali menyinggung perasaan dan emosi orang lain.

Meski demikian banyak orang menanggap Ahok  dan Risma   sebagai orang hebat yang kerap dianggap bertindak benar.

Ahok yang ketika  menjadi Gubernur Jakarta saban hari berusaha terlihat tegas dan bertindak benar dengan cara marah-marah. Demikian halnya Menteri Sosial Risma yang pernah menjadi walikota Surabaya,  hingga kini pun selalu berupaya marah-marah karena merasa bertindak benar.

Perasaan benar dan tegas   keduanya kerap dimanifestasi melalui sikap  marah-marah dan serangan verbal  kepada orang yang diaggapnya salah atau tidak benar. Akibatnya , persoalan bukannya selesai namun malah menimbulkan konflik personal terhadap orang yang dimarah-marahin.

Penilaiannya kemudian bertransisi dan saling bertolak belakang, bukan lagi soal benar salah saja, tapi soal baik dan buruk. Di satu sisi Ahok, Risma dan Fans Klubnya melihat soal benar salah. Orang yang salah sangat wajar dimarah-marah dibentak dan diserang secara verbal, apalagi posisinya orang yang salah itu subordinat atau dibawah kita.

Sedangkan orang yang netral dan bersebrangan cenderung  menilainya lebih kepada   buruknya atitude yang ditunjukan  Ahok dan Risma. Orang yang salah tidak perlu dimarah-marah dan dibentak-bentak cukup diproses sesuai aturan yang berlaku saja. Sikap ” Arogan “yang ditunjukan Ahok dan Risma dinilai mereka sangat tidak baik alias Buruk buat masyarakat dan pemerintahan .

Perlu difahami bahwa penilaian benar dan salah lebih kepada konsepsi hukum. Ada ketentuan yang mengatur soal larangan, kebolehan dan keharusan. Orang melakukan larangan akan dianggap salah atau tidak benar, maka ia boleh disanksi sesuai ketentuan yang mengatur.

Namun pertanyaannya, apakah  dalam ketentuan hukum  itu terdapat sanksi yang menyebutkan atau membolehkan adanya tindakan memarahi dan memaki orang yang bersalah?    Jikapun ada sanksi hukum yang sifatnya verbal dari pemberi hukuman, maka sanksi dimaksud  hanya berupa teguran tertulis maupun lisan.

Sikap marah-marah kepada orang yang “dianggap”  salah bagi sebagian orang yang merasa di atas seringkali dianggap hukuman kepada orang-orang yang posisinya lemah.   Marah  yang meledak-ledak  menjadi  ekspresi diri dan emosi sesorang dalam melihat peristiwa atau kejadian yang tidak sesuai harapannya.Mereka tak peduli apakah tindakannya dianggap baik atau tidak. Bagi mereka orang yang salah pantas untuk diintimidasi , ditekan dan dimarahi.

Penilaian Baik Buruk

Penilaian   atas sikap orang   biasanya  dilakukan atas sudut pandang  subjektif seseorang dengan memberikan stigma  baik dan buruk. Penilaian itu   didasarkan atas perilaku , etika dan norma.

Konsep penilaian  baik dan tidak baik lebih terlokalisir di komunitas masyarakat yang beragam. Setiap kelompok atau individu akan memberikan penilaian yang berbeda sesuai dengan frame of referensnya

Misalnya bagi pendukung Ahok dan Risma, apa yang dilakukan Ahok dan Risma dianggap sudah baik dengan marah-marah kepada orang yang dianggap bersalah. Tapi oleh orang yang netral dan bukan dari kalangan pendukung Ahok atau Risma, tindakan itu dianggap sesuatu yang arogan dan tidak baik.

Sebagai orang yang selama ini terkesan dengan  kepemimpinan Ahok dan Risma tentu saja saya ingin memberikan penilaian yang netral dan  jujur.

Harus saya akui, arogansi yang kerap muncul pada kedua sosok tersebut merupakan kelemahan yang mereka berdua miliki, tentu dengan mempertimbangkan sisi positif dan baik yang  layak diapresiasi.

Kebanyakan orang   yang merasa benar sering kali menghakimi orang yang salah. Muncul sikap arogan seolah ia menemukan kesalahan orang lain .

Perasaan itu muncul karena perspektifnya hanya pada dirinya sendiri dan kebenaraan yang ia lakukan. Ia merasa paling benar dan paling suci dibanding orang yang dinilainya salah. Padahal, belum tentu orang yang dinilainya salah pada kenyataannya  benar-benar berbuat salah.

Arogan dapat didefinisikan sebagai sebuah perasaan yang menjadikan seseorang merasa paling hebat (superior) dibanding orang lain. Sifat ini dimanifestasikan ke dalam tindakan yang  angkuh, congkak, pongah dan suka memaksakan kehendak.

Sifat arogan seringkali muncul kepada orang yang tidak memahami kepemimpinan. Ia merasa kelemahan dan kesalahan yang dilakukan bawahan dan orang lain dapat dieksplore sebagai lawan yang harus diserang habis-habisan sebelum persoalan selesai.

Orang dengan sifat arogan merasa harus selalu lebih baik dan di atas agar mereka mendapat afirmasi (pengakuan) positif dari orang lain.

Arogansi itu itu mendorong ia merasa superpower” Saya tidak takut kepada siapa pun selama saya memang  benar”. Karena merasa benar, ia boleh Marah-marah, memaki  orang seenaknya di depan umum. Orang arogan cenderung tidak peduli apakah perbuatan baik atau tidak. Ketika ia merasa benar maka orang yang salah di hadapannya berhak dimarah dan dimaki-maki.

Ia lupa bahwa persoalan itu harus diselesaikan dengan bijak , dan  ada instrumen hukum yang berhak menghukum orang yang salah tanpa perlu ia marah-marah. Maka itu sering kali sosok pemimpin yang arogan mengabaikan aspek hukum dalam menghukum seseorang yang bersalah.

 Ahok dan Risma harus belajar dari presiden Jokowi bagaimana mengalahkan arogansi namun tetap benar dan baik. Spirit kebenaran dan kebaikan yang ada pada diri Ahok dan Risma sebenarnya sama dengan apa yang ada pada diri Jokowi, Jokowi mampu bertindak bijak dan tidak terjebak pada cermin kebenaran dirinya. Maka itu kepemimpinannya lebih efektif, bijak dan baik. Dan, Harus diakui sosok Jokowi jauh lebih baik dari Ahok dan Risma.

Dari itu, mulai sekarang semua pendukung Ahok dan Risma harus mengakui bahwa Ahok dan Risma itu arogan. Sikap arogan itulah yang membuat Ahok dan Risma tidak sebaik Jokowi. Artinya  Marah-marahnya Ahok dan Risma yang kerap ditampilkan bukanlah hal yang baik yang patut dicontoh, ditiru dan didukung.