Rasa kesal dan kecewaku sempat mencuat takala mendengar  Norhayati Andris harus dicopot dari jabatannya sebagai ketua DPRD Kaltara. Ketika itu, menurutku  keputusan partai tidak adil  dan mengabaikan realitas  politik dan sosial yang terjadi di Kaltara.

Parahnya untuk memuluskan pencopotan itu, Norhayati juga diberhentikan sebagai Sekretaris DPW PDIP Kaltara, jabatan yang sudah dua tahun ia emban di dalam  partai lambang kepala banteng itu.

Sebagai tokoh  publik daerah yang selama ini dikenal luas di Kaltara, kepemimpinan Norhayati dinilai fine-fine saja bahkan bisa dianggap luar biasa,  ia mampu membangun citra positif   tidak saja untuk PDIP melainkan juga  DPRD Kaltara.

Norhayati dinilai berhasil membangun dan menegaskan eksistensi   PDIP sebagai partai yang merakyat di Kaltara. Ini bisa dilihat dari komunikasi dan interaksi Norhayati yang  dekat dan terbuka pada semua lapisan masyarakat dan kelompok manapun tanpa ada batasan sekat suku dan agama. Leadershipnya yang inklusif dan servant oriented membuat ia merepresentasikan ideologi marhaenisme yang sesungguhnya kepada  masyarakat .

Demikian halnya kepemimpinannya  di DPRD Kaltara, ia mampu membangun harmonisasi antara eskekutif dan legislatif. Sejauh ini ia terlihat dapat diterima semua anggota lintas partai di dalamnya. Sebagai seorang perempuan ia tentu memiliki kelebihan dalam membangun citra dan merangkul semua kepentingan..

Dari surat DPP PDIP yang beredar di media  sosial perihal pencopotan itu,  rasanya Keputusan PDIP itu tak dapat tak memiliki argumentasi yang jelas untuk diterima, sangat terburu-buru dan bisa bilang penuh hanya ingin mengakomodir  kepentingan orang tertentu. Pelanggaran yang dituduhkan kepada Norhayati  bukanlah persoalan prinsip, yang sebenarnya  dapat diselesaikan melalui komunikasi.

Meski surat   keputusan DPP itu  ditandatangani Ketua Umum PDIP megawati dan Sekjend Hasto, namun banyak pihak yang meyakini adanya  bisikan orang- orang yang berkepentingan di wilayah ini yang tidak suka dengan kepemimpinan Norhayati.

Tetapi kembali lagi, ini keputusan politik dan otoritas partai yang siapa pun diluar sana tidak punya kewenangan untuk mencampuri. Apapun bentuk kekecewaan dan kecurigaan yang muncul, inilah dunia politik, dunia yang dipenuhi ketidakpastian. Semuanya diukur berdasarkan kepentingan dan kekuasaan.

Loyalitas, kebaikan, pengabdian dan kontribusi kepada partai tak selalu menjadi porto folio yang menjaminkarier mu di partai. Setiamu, baikmu, abdimu dan pemberianmu tidak akan pernah cukup bagi partai. Selalu ada faktor A hingga z yang akan menentukan keputusan partai untuk memanfaatkan dan menepikanmu. Salah satu alasannya,  karena di dalam partai selalu ada politisi lain yang merupakan pesaingmu dan selalu ingin menjatuhkanmu.

Dalam politik, setiap kawan adalah lawan dan sebaliknya setiap lawan bisa jadi seorang kawan. Semakin jauh kau meninggalkan lawanmu,maka semakin kuat keinginan untuk menjatuhkanmu.

Realita politik ini yang kemudian menyadarkan dan memahamkan akan batasan yang kita miliki atas dinamika  yang terjadi dalam  partai politik. Kekecewaan dan kemarahan tak boleh masuk dalam otoritas politik yang terjadi. Ibarat permainan sepak bola kita hanyalah penonton. Hanya bisa menilai dan mengamati secara subjektif atas apa yang terjadi, hanya bisa melihat kecurangan dan ketidakadilan  tanpa mampu melakukan protes atau  mempengaruhi keputusan.

Inilah partai dan inilah PDIP dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semua persoalan hanya dalam ruang kontrol mereka, cuma  mereka yang boleh memutuskan  dan paling tahu atas  pertimbangkan setiap keputusan itu. Tidak ada yang benar atau pun yang salah, semua tergantung bagaimana kita menyakinkan kekuasaan dan kepentingan kita berpihak pada partai.(*)